Saminnet-Search Article Wiki Forum Piwigo SNS Cloud vtiger Sugar
Labuanbajo2

Labuanbajo2

Hari pertamaSailingKomodo, kapal kami menuju ke pulau Kanawa. Bukan Kenawa yang di Sumba itu, ya. Karena biasanya sering tertukar. Pulau Kanawa sendiri sebuah pulau kecil yang memiliki dermaga dan sebuah resort. Kalian bisa menginap di resort ini dengan fasilitas antar jemput dari pelabuhan Labuan Bajo-Kanawa. Bisa dilihat paketnya di situs-situs penjualan reservasi hotel. Kami akan mampir untuksnorkelingツatau pun sekadar bermain pasir dan ombak di pantai.

DSCF7310Pemandangan selama perjalanan ke pulau Kanawa.

Perjalanan dari pelabuhan ke pulau Kanawa tidak terlalu lama. Hanya sekitar 1 setengah jam. Matahari cukup terik saat itu karena hampir tengah hari. Beberapa dari kami turun ke pulau ditemani oleh kru kapal dan sebagian memilih nyemplung untuksnorkelingツkarena memang airnya yang tenang, jernih dan banyak ikannya. Saya memilih untuk berjalan-jalan untuk menjelajah pulau. Sayangnya tidak terlalu luas karena terhalang oleh tebing-tebing untuk mencapai sisi pulau lainnya sehingga saya hanya bisa menikmati pantai duduk santai di bawah pohon cemara udang yang teduh.

DSCF7322Pulau Kanawa dari kejauhan.DSCF7325Suasana santai saat di lantai paling atas kapal sebelum menepi ke pulau Kanawa.DSCF7326Tuh, kan. Airnya biru dan jernih banget. Siapa yang tak tergoda untuk nyemplung?

Resortnya cukup sepi. Mungkin karena belum buka. Hanya satu dua orang penjaga resort yang kelihatan sementara bangku-bangku di sepanjang pantai masih ditelungkupkan. Jangan tanya pemandangan yang ada di sini, cukup indah memanjakan mata. Walaupun menurut saya lebih indah di Nuha Pasir Mekko, tetapi lumayanlah. Apalagi saat tadi di dermaga kami melihatschooling fishツyang begitu banyak di pantainya yang dangkal. Ribuan ekor ikan mondar-mandir berkelompok dengan rapinya. Walaupun ukuran ikannya tidak besar, tetapi tetap saja membuat saya 窶wah窶ヲ.wah窶ヲwah窶. Jarang lho bisa melihatschooling fishツsedekat ini tanpa perlu menyelam terlebih dahulu. Hehehe. Di Kanawa juga terdapat banyak burung gagak yang ukurannya cukup besar. Mereka biasanya suka terlihat bergerombol di sisi kiri pulau.

DSCF7329Schooling fishyang bisa dilihat dari dermaga saat turun dari kapal.DSCF7346Ikannya begitu banyak hingga jauh hampir ke tengah.DSCF7355Resortnya masih belum dibuka. ^^DSCF7360Biru di mana-mana. Cantik, bukan?DSCF7388Dermaga kayu pulau Kanawa.

Kami tidak terlalu lama di sana. Paling sekitar 1 jam, lalu kami dipanggil untuk naik kapal kembali untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini spot kedua ialah Manta Point. Disebut Manta Point berarti tempat di mana kita bisa melihat ikan-ikan manta berenang. Yup, kita berburu ikan manta. Hehehe. Dan di sana rencananya saya akan ikut nyebur berharap bisa berenang bersama ikan manta atau yang sering disebut ikan pari. Sebelumnya kami makan siang dulu sambil mengobrol nikmat di meja makan bersama-sama. Menunya ada nasi, 2 macam sayur, lauk ikan tongkol dimasak balado & ayam, serta pencuci mulut semangka dan pisang. Jempol deh ini yang masak. Rasanya enak. Uniknya, setelah diperhatikan, turis-turis asing yang satu kapal dengan kami selalu makan dengan tertib dengan piring di atas meja. Tidak ada yang memakai tangan. Dan tidak ada yang mengangkat piringnya. Tidak seperti kami yang turis domestik yang makan sambil duduk di tangga, di bangku-bangku panjang yang memang tidak ada mejanya. Tetapi mereka ramah-ramah. Walaupun kami masih agak segan untuk mengobrol bersama mereka, ada beberapa dari mereka yang inisiatif menyapa kami duluan. Baru saat malamnya kami bisa mengobrol lepas dengan mereka.

DSCF7417Pemandangan pulau-pulau cantik yang memanjakan mata selama menuju Manta Point.DSCF7423Gradasi birunya air laut tidak jemu-jemu untuk dipandang.DSCF7426Yuhuuu窶ヲManta Point, I am coming.

Jaraknya tidak terlalu jauh dengan pulau Kanawa, sekitar 1 setengah jam. Sampai sana, banyak dari kami yang langsung turun, nyemplung ke laut. Karena banyak bulenya, jangan heran pemandangan bule-bule cewek berbikini di mana-mana, sementara kami cewek-cewek domestik, berpakaian tertutup semua dan penuhsunblockseluruh badan. Hahahaha. Dan tak hanya kapal kami saja. Ada dua kapal lainnya yang ikut memburu manta, namun ukurannya lebih kecil. Saya pun ikut terjun. Tak lupa membawa pelampung untuk jaga-jaga. Saat ke Pahawang kemarin saya cukup pede untuk tidak memakai pelampung, tetapi di sini saya tidak terlalu berani karena kata kru kapal arusnya cukup deras saat ini. Dan benar saja. Begitu nyemplung, tak lama badan saya terseret arus cukup jauh dari kapal. Saya berusaha berenang untuk mencapai kapal, tetapi hanyastuckツdi tempat. Akhirnya ada salah satu kru kapal yang melemparkan ban ke saya dan menarik saya naik ke kapal. Pupus sudah harapan saya untuk berenang bersama ikan manta. Saya akhirnya hanya bisa puas melihat rombongan ikan manta yang hilir mudik di sekitar kapal di atas anjungan kapal paling depan bersama seorang kru kapal yang membantu nahkoda melihat di mana keberadaan ikan manta. Dari atas sana saya juga melihat jika turis-turis asing dari rombongan kami pun kepayahan untuk berenang melawan arus. Banyak dari mereka yang terseret arus juga. Berarti bukan saya saja yang berpikir arusnya sangat deras. Dan saya baru tahu jika bulan terbaik Sailing Komodo itu di bulan ke-4 hingga ke-9. Di mana arus sedang tenang, dan tidak banyak pusaran air yang tercipta. Bahkan katanya beberapa minggu sebelum kami berlayar, ada insiden seorang turis yang terjatuh dari kapal dan terseret pusaran air dan ditemukan di Bima dalam keadaan meninggal. Ada juga sebuah kapal kecil yang terbalik karena pusaran air dan menimbulkan beberapa korban. Serem banget, ya. Untungnya kami baru tahu cerita itu setelah kami kembali ke Labuan Bajo dari seorangdriveryang kami sewa. Pantas saja saat dari pantai pink menuju Rinca, ada sebuah tempat yang dari atas kapal saya sering melihat pusaran-pusaran air yang cukup besar yang jumlahnya tak hanya satu dua. Dan nahkoda berusaha untuk menghindarinya. Katadriver-nya jika di bulan-bulan yang arusnya sedang banyak biasanya akan muncul ratusan pusaran air yang cukup besar. Sedangkan di bulan-bulan tenang hanya akan muncul 30-an pusaran air dengan 8 pusaran air yang besar. Setiap nahkoda kapal yangsailingdi sana biasanya tahu titik-titik mana yang ada pusaran airnya dan tahu bagaimana cara melewatinya. Makanya setiap kapal yang akansailingakan mempertimbangkan rute dengan matang dan tidak boleh sembarangan. Karena bisa-bisa terjebak oleh pusaran arus. Misalnya jika kita tidak bisa dari pulau Komodo ke pulau Rinca lalu ke pantai pink. Karena jika kesorean bisa-bisa kita terjebak arus di pantai pink. Seperti ada rombongan yang nekat ke sana saat sore, ya memang pantai pink paling bagus warna pinknya saat pagi dan sore, ketika akan pulang kapal mereka tidak bisa maju melawan arus dan harus menginap semalam di sana menunggu arusnya mereda. Jadi, jangan dipaksakan semua tempat yang ada di sana dikunjungi sekaligus. Bicarakan dahulu dengan nahkodanya karena memang mereka yang paling tahu medannya. Kami saja yang ingin mengunjungi pulau Kelor dan Gili Lawa Darat tidak bisa jika memang ingin pulau Padar wajib masuk. Ternyata itu karena arus lautnya. Jadi jangan dipaksakan ya. Bisa datang lagi lain waktu untuk mengunjungi pulau-pulau lainnya.

Beruntung saya tahu cerita soal pusaran air itu saat kami sudah ada di darat. Coba kalau masih di kapal, saya tidak akan berani naik ke anjungan yang paling depan seperti saat di Manta Point atau saat kapal kembali pulang ke Labuan Bajo menikmatisunsetツterakhir saatsailing. Bisa gemetaran. Soalnya saat saya duduk di sana bisa dengan mudahnya bisa melihat rombongan 4-5 manta yang menyelinap melewati kapal kami. Ukurannya yang besar membuat saya takjub. Saya semakin merasa beruntung saat seekor penyu hijau tertangkap mata melintas di dekat kapal kami. Orang-orang di kapal langsung heboh. Saya tidak sempat memotretnya karena kamera masih ada di tas di atas meja, sementara seluruh badan saya masih basah oleh air laut sehabis berenang. Paling tidakmomentitu masih tersimpan di kepala saya.

DSCF7442Pemandangan kapal dari atas anjungan. Seru, kan?

Tak jauh dari Manta Point, terdapat gusung pasir putih yang sering disebut pulau Makassar atau karang Makassar. Ada sekitar 3 kapal yang lebih kecil dari kapal kami yang singgah ke sana untuk foto-foto. Tetapi kami hanya melewatinya karena kami langsung ke destinasi ketiga, yaitu pulau Padar dan mengejarsunsetツke pulau Kelelawar.

DSCF7430Gusung pasir pulau Makassar di Manta Point. Cuma dilewati begitu saja. Hiks.

Ayo, siapa yang tidak tahu pulau Padar? Pulau ikonik yang sering banget jadi spot foto kece diinstagram. Yup, pulau Padar merupakan tempat incaran saya saatsailingdi sini, bukan pulau Komodo atau pulau Rinca untuk ketemu dengan komodonya. Hahahaha. Otomatis saya harusprepareuntuk bisatrackingke atas bukitnya yang aduhai indahnya. Karena di sana kita bisa melihat 3 pantai berbeda dengan warna pasir yang berbeda pula. Saya pun tak sabar menunggu sampai. Apalagi saya sudah mandi, siap dengan Fujifilm X-A3, dan sebotol air mineral. Katanyatracking-nya hanya setengah jam. Ternyata tidak, setelah dijalani hampir 1 jam. Yang tadinya undakannya berupa kayu, beton sampai tanah hingga ke puncak paling atas. Ngos-ngosannya minta ampun. Apalagi tidak ada pohon untuk berteduh kecuali di pos 3 dan puncak. Angin pun tidak ada yang bertiup. Sementara panasnya sama dengan jam 3 sore padahal ketika kami sampai ke atas sudah pukul 5 sore. Keringat jangan ditanya lagi. Pastikan kalian menggunakan alas kaki yang nyaman, kalau bisa sepatu untuktrackingke sini. Apalagi kalau sudah melewati pos 2, jalanan tanah berbatu yang cukup licin, terutama saat turun. Saya bahkan diajari untuk berjalan dengan kaki diserongkan bukan lurus saat turun dari puncak karena beberapa kali terpeleset oleh seorang bule dari Brazil. Kalau ada yang mau kelapa muda, biasanya ada yang jualan kelapa di bawah di sebelum jalur pendakian. Harganya sekitar Rp 35.000 窶 Rp 40.000/butir. Berminat?

DSCF7449Pemandangan ke pulau Padar. Tak kalah dengan film-film dokumenternya National Geographic. Kalian pasti terpukau melihatnya.DSCF7480Landscape-landscape menawan bertebaran di sini. Nggak kalah sama view di Eropa.DSCF7490Akhirnya sampai juga di pulau Padar. Siap-siaptracking!DSCF7512Dari bawah hingga pertengahan pos pendakian pertama melewati tangga kayu.DSCF7515Pemandangan di sisi sebelah kanan saat akan naik ke pos 1. Cantik banget, kan? Apalagi didominasi warna hijau dan bunga-bunga kuning yang sedang mekar.Perfect.DSCF7517Pos pendakian 1.DSCF7518Pemandangan dari pos 1.DSCF7522Tidak ada salahnya foto bareng dulu. Walaupun tidak semuanya ikut foto, toh tidak apa-apa.See, semuanya sumringah tanda puas melihat eloknya pulau eksotik ini. Bersama 2 kru kapal yang ikut mendaki juga. #indtravelDSCF7528Trackke pos 2. Lumayan menguras tenaga. Dan panasnya beuh窶ヲterik sekali.DSCF7532Sebelah kanan atas itu pos pendakian 2. Saya tidak ke sana melainkan langsung ke pos 3. Katanya nanti bakal dibangun gazebo atau gardu pandang di sana. Duh, menurut kalian bagaimana? Sebaiknya pulau Padar alami saja atau dibangun?DSCF7536Pemandangan dari pos ke-3 sambil ngadem di bawah pohon.

Pemandangan dari atas bukit pulau Padar, benar-benar masya Allah. Indah banget. Apalagi saat ke sana rumputnya tengah hijau-hijaunya.Perfect. Apalagi saat melihat ke bawah ke tempat kapal dilabuhkan, terdapat kawanan lumba-lumba yang berenang begitu banyak. Ah, sayang sekali. Coba kalau saya masih di kapal saat itu. Tapi tidak mengapa. Keindahan pulau Padar membuat saya semakin bersyukur bisa ke sini dan melihatnya secara langsung. Impian saya dua tahun lalu untuk ke sini terwujud. Hei, bagi kalian yang bermimpi bisa ke Padar, kalian pasti bisa kok. Asalkan ada niat dan menabung. Pasti bisa. Entah itu kalianbackpackeranツsendiri atau ikutopen trip. Sama-sama menyenangkan.

Dari rombongan kami yang turis domestik, hanya saya yang ikut sampai puncak dan berfoto di sana. Sebenarnya yang spot paling banyak buat foto di Padar itu di pos ke 2 dan ke 3. Dimana ketiga pantainya terlihat dengan jelas. Beda dengan di puncak karena tertutupi oleh sebuah padang rumput jadi kurang maksimal. Tapi saat turun saya masih bisa menyempatkan diri untuk menfotonya. Oh iya, katanya di sana ada tempat foto yang pas agar bisa foto denganbackgroundツyang satu garis dengan pulau. Katanya ditandai dengan huruf X di batunya. Tetapi saya tidak menemukannya. Bagi yang menemukannya berarti kalian beruntung,Buddy. Tapi walaupun tidak di titik 窶蝋窶 itu, saya sudah puas bisa berfoto di sana.

DSCF7549Masih ada jalan menuju puncak. Aaaaargh, kok ya nggak sampai-sampai? Mbatin dalam hati. Hahahahaha.DSCF7552Pemandangan sebelum benar-benar puncak. Hijaunya aduhai. Konturnya serasa berada di zaman purba.DSCF7569Parachampionyang akhirnya sampai ke puncak. Benar-benar gila. #indtravelDSCF7577Foto lompat tentu saja wajib buat dilakukan.DSCF7585Pasangan dari Brazil yang baru menikah di Bali dan honeymoonnya ke Labuan Bajo. Romantis, ya.^^DSCF7589Disebut trio apa, ya? Walaupun pakaian kami berbeda dengan kebanyakan, terutama buat yang turis-turis asing, toh saat di kapal tidak ada yang mempeributkannya. Kami saling menghormati. Perdamaian itu indah, lho. #indtravelDSCF7617Pemandangan sekeren ini masa sih kalian tidak tertarik untuk mengunjunginya paling tidak sekali seumur hidup? Wisatawan asing saja jauh-jauh ke Indonesia buat melihat ini, masa kalian yang warganegara Indonesia sendiri belum pernah. #indtravel

Kami pun turun karena sudah dipanggil kru kapal agar bisa mengejarsunsetツdi pulau Kelelawar. Namun sayang, begitu kami semua sudah sampai kapal dan kapal mulai berjalan lagi, matahari sudah benar-benar turun. Jadi kami melewatkansunset-nya. Tetapi tidak apa-apa. Toh, kami masih bisa melihatsunsetツdari atas kapal. Dan kami langsung ke pulau Komodo dan bermalam di sana.

DSCF7621Sunsetcantik dalam perjalanan ke pulau Komodo. #indtravel

Sambil menunggu makan malam, saya duduk-duduk santai di meja makan sambil menyesap kopi dengan nikmat.

Hei, why don窶冲 you taking up there? You can see the stars,窶 ajak bule cowok dari Australia yang hampir setahun menetap di Bali saat melihat saya duduk-duduk di meja makan. Seluruh tubuhnya penuh tato dengan bibir dan telinga ditindik, tetapi orangnya ramah dan penuh senyum. Sebelumnya kami pernah mengobrol saat makan siang bersama seorangguide.

Okay.窶 Saya pun ke atas. Sebenarnya agak kagok juga sih. Karena kerudung saya agak tidakmatchingツdengan bir dan rokok yang ada. Tetapi karena merekawelcome, saya jadi mulai rileks. Toh, saya membawa minuman sendiri. Kopi. Hahaha.

Saya lalu diajari bagaimana caranya melihat bintang. Saya disuruh berdiri dengan kedua tangan dilipat di atas atap kapal dan menaruh kepala saya di sana sehingga saya bisa melihat langit tanpa adanya polusi cahaya dari kapal. Baiklah, saya pun mencoba. Persoalannya adalah tinggi badan saya. Tinggi atap kapal sama dengan tinggi kepala saya. Menjinjitpun tidak bisa membuat dagu saya sampai ke atas. Mereka enak karena mereka tinggi-tinggi jadi tidak butuheffort. Saya pun menyerah. Tetapi bule tadi menyarankan agar kaki saya naik ke atas dinding pembatas yang membatasi area santai dengan tempat tidur. Baru setelah itu saya bisa melihat langit dengan bebas tanpa polusi cahaya sementara bule itu pamit ke bawah mau mengambil makanan. Dan wowwwwww窶ヲ.langitnya begitu luar biasa. Biasanya saya hanya melihat sekumpulan bintang di tempat-tempat tertentu, misal di bagian selatan dengan rasi bintang salib selatan bersama beberapa bintang lainnya. Atau sebelah utara dengan rasi bintang gubuk penceng dan sedikit teman-temannya. Kalau tidak mereka membentuk garis galaksi Bimasakti yang sering ada di foto-foto langit malam. Tetapi malam ini langit penuh semuanya dengan bintang. Tidak terlihat rasi-rasi bintangnya tetapifull, dipenuhi bintang di setiap sudutnya. Tidak menyisakan ruang di langit. Rata. Baru sekali ini saya melihatnya. Sungguh indah. Saya hanya bisa terkagum-kagum.

So, you really like stars too?窶 tiba-tiba ada suara dari samping. Ada satu bule cowok juga, berbeda dengan yang tadi, yang ikut melihat bintang dengan cara yang sama. Berbeda ding, dia hanya berdiri bukan memanjat.

Namanya Rinaldo. Dari Portugal. Perawakannya hitam manis, berambut keriting dengan suara yang lembut.Well, kami lalu mengobrol banyak. Mulai dari alien, UFO, di Indonesia sudah ke mana saja, bahkan cerita soal pacarnya yang diajak juga dalamsailingini. Ceweknya orang Austria dan sudah 3 tahun tinggal bersama, mereka bertemu di tempat kerja. Kami sempat bertukar pikiran mengapa saya berjilbab dan pandangan orang Indonesia soal tinggal bersama. Walaupun bahasa Inggris saya berlepotan dan sambil mikir saat ngomong, tetapi Rinaldo ini begitu sabar mendengarkan. Dia bahkan minta saya mendoakan agar secepatnya dia bisa melamar kekasihnya itu. Tidak terasa sudah satu jam lebih saya mengobrol sampai kaki saya akhirnya kesemutan. Saya lalu pamit turun ke lantai 2. Pas banget makan malam telah siap. Semua orang lalu dipanggil untuk makan.

Setelah makan malam, kami semua masih di meja makan. Ngobrol dengan santai dan mencoba saling mengenal. Kekakuan diantara kami mencair. Sesekali kami tertawa. Apalagi saat kami tahu jika di sana ada pasangan bule dari Brazil yang baru 5 hari lalu menikah di Bali. Kami semua langsung mengucapkan selamat. Pasangan itu begitu antusias menceritakan pernikahan mereka. Bahkan memperlihatkan foto-fotonya. Katanya mereka menikah di Bali dengan biaya 25 juta rupiah sudah lengkap dengan kamarhoneymoonselama 1 malam, pendeta, dekorasi danmake up, juga fotografer. Yah, mereka hanya berdua. Tidak ada tamu undangan lainnya. Sang wanita begitu sentimental karena ibunya baru saja meninggal sebelum mereka menikah dan ia merasa ibunya datang saat ia menikah, ia pun berkaca-kaca saat bercerita. Kami pun ikut terharu dan menguatkannya. Ditanya mengapa mereka menikah di Bali, selain tempatnya indah, jika di Bali dengan 25 juta mereka sudah mendapatkan semuanya, di Brazil mereka hanya bisa membayar jasa fotografer dengan uang tersebut.

Beda lagi dengan salah seorang teman dari Ende yang bercerita sebentar lagi dia akan menikah akhir Juli kemarin, dia bahkan sudah menabung bersama pacarnya hingga 130 juta hanya untuk membayarbelis. Makanya dia merasa iri dengan pasangan dari Brazil itu yang hanya dengan 25 juta saja sudah bisa menikah.

窶廣pa aku harus kawin lari saja ke Bali, ya?窶 katanya sambil bergurau.

Yah, memang di Floresbelisツcukup menjadi beban buat para calon pengantin. Mengapa? Silakan baca di tulisanツExplore Flores Bagian 1.

Kami masih mengobrol cukup lama sambil melihat para kru kapal memancing gurita untuk sarapan besok. Belum ada yang ke kamar, kecuali pasangan bule dari Perancis yang memang lebih pendiam dan jarang membaur dibandingkan bule-bule lainnya. Mereka terlihat lebih elegan dan gimana gitu gerak-geriknya. Senyumnya seperlunya, pandangannya teduh, dan makannya tidak pernah terburu-buru. Namun kamera mereka yang paling canggih. Lensa telenya bikin iri. Duh, kapan bisa beli kamera dengan lensa sebagus itu. Pasti hasil gambarnya lebih jernih.

Begitu dapat satu gurita, kami langsung heboh. Saya juga. Karena ini pertama kalinya melihat gurita dipancing. Dan hasilnya cukup besar. Apalagi saat dinaikan ke kapal tintanya menyemprot ke mana-mana. Malam itu kami mendapat 4 gurita, tiga yang cukup besar dan satu sedang.

Saking senangnya, salah seorang bule dari Australia lalu membuka sebotol sampanye yang dia bawa untuk perayaan. Kata teman yang dari Kupang yang memang sering minum bilang jika minuman merek itu terkenal cukup enak rasanya. Dan dengan bersemangat ikut minum. Di kapal memang hanya 3 orang yang muslim, jadi saya hanya bisa ikutcheersツdengan minum air putih saja. Hahahaha.

Karena malam mulai larut, apalagi besok kami akantrackingdi pulau Komodo cukup pagi, jadi kami beranjak ke kamar masing-masing untuk tidur.

Seperti apa rasanya bertemu sang Naga Komodo? Intip di tulisan selanjutnya, ya.

Note:

  1. Sebelum merencanakan Sailing Komodo, cari-cari waktu terbaik ya buat ke sana. Saat musim yang arusnya tidak deras atau saat musim kawin Komodo.
  2. Saat di Manta Point, jika tidak bisa berenang,pleasepakai jaket pelampung. Karena yang jago renang saja bisa kewalahan dengan arusnya.Safety first, ya. Dan jangan lupa bilang ke kru kapal juga jadi kalau misalnya terseret arus seperti saya, mereka bisa langsung melakukan tindakan penyelamatan.
  3. Jangan lupa menjaga kebersihan dan jangan merusak alam, terutama saat di pulau Padar. Jika membawa botol air minum saat naik, turunnya juga dibawa ya. Dan dikumpulkan di kapal. Jangan dibuang sembarangan. Di pulau Padar juga termasuk habitat Komodo, walaupun kemarin saya tidak melihatnya. Jadi sebagai turis yang baik, bisalah sedikit bertanggungjawab.
  4. Pakailahsunblock. Panasnya ampun-ampunan. Berbeda saat ke Flores pertama kalinya, sekarang saya lebihpreparedengansunblockdan pelembab. Hasilnya kulit tidak terlalu gosong dan cepat pulih tak lebih dari seminggu.
  5. Tidak ada salahnya untuk nimbrung, saling kenalan atau ngobrol dengan orang yang satu kapal. Jangan jadi orang yang pendiam, ya. Nanti malah kurang seru liburannya, apalagi jika tiap keluar kamar berpapasan. Nggak enak dong kalau tidak menyapa. Biar bisa dapat teman baru dan cerita baru yang menginspirasi kalian. Terutama buat yang satu rombongan dengan bule-bule. Tidak apa-apa bahasa Inggris kalian cuma seadanya, bahkan kacau. Mereka akan mengerti. Paling tidak tunjukkan bahwa penduduk Indonesia orang yang ramah. Hanya saja jangan seperti orang menginterogasi, ya. Kadang-kadang mereka kurang nyaman jika ada yang menanyakan kehidupan pribadi mereka. Jadi, siap untuk jadi tuan rumah?

original url https://globeamarath.wordpress.com/2018/08/12/serunya-backpackeran-ke-labuan-bajo-jilid-2/

Comments   

 
0 #1 Guest 2020-06-24 10:08
Hey would you mind sharing which blog platform you're using?
I'm going to start my own blog soon but I'm having a tough time selecting between BlogEngine/Word press/B2evoluti on and
Drupal. The reason I ask is because your layout seems different then most blogs
and I'm looking for something completely unique. P.S My apologies for getting off-topic but I had to ask!


Check out my homepage se renta contenedo de basura
Quote
 

Articles by Date

TweetTweet Share on LinkedInShare on LinkedIn Share on Google+Google+ Submit to RedditReddit Publish on WordPress WordPress Send emailSend email